Scroll untuk baca artikel
Berita

Perancangan Pendampingan Kesehatan Mental Ibu Pasca Pandemi untuk Perempuan Jawa Barat Bersama Agita Nurfianti

21
×

Perancangan Pendampingan Kesehatan Mental Ibu Pasca Pandemi untuk Perempuan Jawa Barat Bersama Agita Nurfianti

Sebarkan artikel ini
Dari WFH overload, kenaikan perceraian, hingga meningkatnya laporan kekerasan terhadap perempuan, audiensi Agita Nurfianti bersama Vibrant Woman, Moms Academy, dan Perempuan Muda Karya merumuskan pendekatan baru berbasis pendampingan, pra-nikah, dan platform dukungan 24/7.
Dari WFH overload, kenaikan perceraian, hingga meningkatnya laporan kekerasan terhadap perempuan, audiensi Agita Nurfianti bersama Vibrant Woman, Moms Academy, dan Perempuan Muda Karya merumuskan pendekatan baru berbasis pendampingan, pra-nikah, dan platform dukungan 24/7.
Example 468x60

Pada bulan November 2024, Agita Nurfianti, Anggota DPD RI Komite III dari Jawa Barat, menginisiasi audiensi strategis bersama tiga komunitas perempuan akar rumput yang bergerak dalam bidang pemberdayaan perempuan. Agita Nurfiani menggandeng Vibrant Woman, Moms Academy, dan Perempuan Muda Karya sebagai upaya merumuskan pendekatan dan solusi untuk menunjang kesehatan mental ibu, khususnya di wilayah Jawa Barat

Example 300x600

Kegiatan audiensi tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Berdasarkan kabar dari lapangan, baik itu lewat media sosial maupun temuan langsung, ada risiko yang meningkat terkait kesehatan mental perempuan di Jawa Barat, khususnya para ibu. Hal ini dilihat dari adanya peningkatan angka perceraian, kasus laporan kekerasan, hingga angka kematian akibat keputusasaan menjalani hidup. Perempuan yang kelelahan, ibu yang memendam luka, dan rumah tangga yang berantakan meningkat sejak pandemi COVID-19. Hal yang memang sulit dielakkan. 

Fenomena WFH yang overload membuat batas antara ruang profesional dan domestik kabur. Dalam banyak keluarga, benturan peran itu berujung pada konflik yang menjadi penyebab meningkatnya ketegangan rumah tangga hingga perceraian. Pada titik yang lebih mengkhawatirkan, laporan kekerasan terhadap perempuan serta meningkatnya angka kematian akibat keputusan mengakhiri hidup juga menjadi alarm sosial yang harus diperhatikan. 

Audiensi yang digelar oleh Agita Nurfianti membuahkan lima “arsitektur” yang diproyeksikan dapat memperkuat ketahanan perempuan Jawa Barat, terutama pada aspek kesehatan mental ibu dan stabilitas rumah tangga. 

1) Memperkuat Pendampingan Berkelanjutan Alih-Alih Workshop, dengan Target Efektivitas 80%

Salah satu kritik yang mencuat adalah model edukasi yang kerap berhenti pada seminar atau pelatihan singkat. Dalam forum, pendekatan sekali jalan itu dinilai hanya menghasilkan pemahaman sesaat, sementara perilaku tetap saja sulit berubah. 

Karena itu, solusi yang ditawarkan bergeser ke coaching dan pendampingan berkelanjutan. Pendekatannya bukan hanya memberi materi, tetapi mendampingi perempuan. Dengan mempraktikkan navigasi emosi dan komunikasi dalam rutinitas yang kompleks, diharapkan bisa menjadi sarana perubahan perilaku yang lebih efektif dibanding jika hanya berupa pertemuan-pertemuan singkat. 

2) School of Life Sebagai Metode Intervensi Pra-Nikah 

Banyak konflik rumah tangga yang dinilai berakar pada ketidaksiapan peran dalam pernikahan. Dalam audiensi, fenomena “role shock” menjadi sorotan. Hal itu dapat terjadi ketika ekspektasi perkawinan bertabrakan dengan kenyataan beban kerja domestik, pengasuhan, dan tuntutan sosial, dan tuntutan ekonomi. 

Sebagai respons, lahir gagasan program “School of Life” yang akan menyasar dewasa awal dan mahasiswa. Tujuannya adalah intervensi pra-nikah dengan membekali calon pasangan agar lebih realistis memahami tanggung jawab dan pembagian peran sebelum memasuki dunia perkawinan. Program ini diproyeksikan diuji coba sebagai pilot di Jakarta dan Bandung pada Juli 2025 mendatang. 

3) “Anti-Galau” Berbasis Konsep Diri Mencakup 5 Dimensi 

Arsitektur berikutnya menekankan pondasi psikologis, yakni identitas diri yang kokoh. Dalam forum diperkenalkan kerangka konsep diri yang terdiri dari lima dimensi: self-image, self-goal, self esteem, self-role, dan self-identity. 

Tujuannya bukan sekadar “motivasi”, tetapi membangun peta batin yang membantu perempuan mengelola stres, menafsirkan konflik, dan mengambil keputusan lebih sehat. Pemrosesan emosi yang sulit dipandang sebagai prasyarat pemulihan. Tanpa berani mengakui dan memproses luka, perempuan akan kesulitan membangun ketahanan menghadapi tekanan lingkungan. 

4) Visi “Halodoc” untuk Kesehatan Mental Perempuan 24/7 

Kesadaran berikutnya muncul dari satu fakta bahwa krisis domestik sering terjadi saat akses bantuan formal tidak tersedia. Karena itu, forum mendorong gagasan platform digital 24/7 yang berfungsi layaknya “Halodoc”, tetapi khusus untuk kesehatan mental perempuan. 

Poin paling penting yang digarisbawahi adalah ketersediaan akses sebagai anonim untuk mematahkan stigma “membuka aib” yang sering membuat perempuan memilih diam. Dengan kanal yang akrab seperti WhatsApp dan Instagram, platform ini diharapkan menjadi pintu masuk bantuan yang lebih cepat dan lebih aman secara psikologis. 

5) Kekuatan Komunitas Perempuan sebagai Jembatan 

Arsitektur terakhir bertumpu pada realitas jangkauan yang terjadi di lapangan. Pemerintah punya keterbatasan fisik, sementara komunitas punya kedekatan emosional. Forum menyorot peran Moms Academy yang disebut memiliki ratusan anggota di wilayah Jawa Barat, dapat menjalankan dukungan harian melalui sapaan, mediasi, dan ruang bercerita. 

Kekuatan ini menjangkau kelompok yang sering tak terlihat: PMI/TKW yang ikut pendampingan daring dari luar negeri, ibu tunggal yang menguatkan ekonomi keluarga lewat produksi rumahan, hingga program pemberdayaan di Lapas Perempuan yang melatih keterampilan dan produk olahan. Tantangan berikutnya yang dibahas adalah membuka akses pasar agar kemandirian ekonomi tetap berlanjut pasca-reintegrasi. 

“Ibu yang Pulih” dan Peta Jalan Aksi 

Kesadaran bahwa  ibu yang tidak baik-baik saja akan berdampak langsung pada kesejahteraan anak mengemuka. Ketidakstabilan emosi orang tua, terutama ibu yang menjadi pusat pengasuhan, dinilai dapat menciptakan kegaduhan yang bisa diwariskan ke masa depan generasi. Dan hal inilah yang menjadi concern Agita Nurfianti sebagai tokoh perempuan dari Jawa Barat.

Menjelang akhir 2024, forum menyebut rencana program “224” yang diproyeksikan diluncurkan pada momen Hari Ibu di bulan Desember. Konsep yang ditawarkan adalah “22 Hari Ibu” bersama “4 coach perempuan” dalam coaching online massal berbasis donasi. Di saat yang sama, pelatihan agen-agen perempuan di tingkat kabupaten dirancang untuk memastikan gerakan tidak berhenti di kota besar. 

 

“Kalau ibu-ibu bersatu, kita nyerah.” canda seorang peserta audiensi. Tentu saja candaan itu tak sekadar gurauan kosong. Tapi menjadi pernyataan bahwa sosok ibu adalah kunci ketahanan keluarga. Pendampingan kesehatan mental ibu tak hanya menjadi program populis tapi juga perwujudan kepedulian dalam hal yang paling fundamental.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *